EkonomiUmum

Libur Sekolah, Pedagang Pasar Soponyono Rungkut Surabaya Keluhkan Pembeli Sepi, Omzet Turun hingga 50 Persen

361
×

Libur Sekolah, Pedagang Pasar Soponyono Rungkut Surabaya Keluhkan Pembeli Sepi, Omzet Turun hingga 50 Persen

Sebarkan artikel ini
Foto Istimewa

WARTANOW.COM – Momen libur sekolah akhir tahun ajaran 2025/2026 membawa dampak signifikan bagi para pedagang pasar tradisional di Kota Surabaya. Sejumlah pedagang mengeluhkan terjadinya penurunan jumlah pembeli yang cukup drastis, bahkan mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan hari-hari biasa.

Kondisi sepi pembeli ini salah satunya dirasakan di Pasar Soponyono, Rungkut, Surabaya. Abdul, salah seorang pedagang di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa penurunan intensitas pengunjung sudah mulai terasa sejak pekan ketiga bulan Juni. Ia menilai, banyak masyarakat yang memilih memanfaatkan momen libur sekolah ini untuk pergi berlibur ke luar kota bersama keluarga.

“Minggu lalu malah sepi banget, hampir tidak ada pembeli sama sekali. Penurunan pengunjung saja mungkin tidak sampai setengah dari hari biasa,” ujar Abdul saat ditemui di Pasar Soponyono, Minggu (28/6/2026).

Harga Bahan Pokok Relatif Stabil, Sayuran dan Rempah Naik Tipis
Meski kondisi pasar tergolong lengang dalam seminggu terakhir, Abdul memaparkan bahwa mayoritas harga bahan pokok (bapok) di Surabaya sejauh ini masih relatif stabil. Kenaikan harga hanya terjadi secara terbatas pada beberapa komoditas sayur, bawang putih, dan bumbu dapur.

“Jadi sepinya itu perkiraan saya sih gara-gara libur sekolah itu. Kalau untuk harga stabil sih, tidak banyak yang naik,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan antara lain:

1. Sayur Kangkung: Naik dari Rp8.000 menjadi Rp12.000 per ikat.

2. Bawang Putih: Naik dari Rp34.000 menjadi Rp36.000 per kilogram.

3. Rempah-rempah (Ketumbar, Kemiri, dll): Mengalami kenaikan rata-rata Rp5.000 per 100 gram.

Dampak Program MBG Libur Sementara, Pedagang Ayam Ikut Terimbas
Di sisi lain, penurunan omzet juga dirasakan oleh pedagang daging ayam potong, Yanti. Ironisnya, penurunan pendapatan ini terjadi justru di saat harga daging ayam mengalami tren penurunan, yaitu dari Rp52.000 menjadi Rp48.000 per kilogram.

READ  Pemkab Bojonegoro Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis Usai Kasus Keracunan Siswa

Yanti menyebut, salah satu pemicu utama merosotnya omzet penjualan daging ayam adalah dihentikannya sementara pasokan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah.

“Harganya turun sekarang ini. Paling ya terasa menurun pendapatan saya ini gara-gara MBG berhenti pas libur sekolah saja sih, lumayan berkurang banyak orderan ini,” keluh Yanti.

Para pedagang pun berharap pemerintah daerah bisa memberikan solusi atau bantuan dalam menjalin jalur distribusi penjualan yang lebih efektif selama masa low season seperti libur sekolah, agar roda ekonomi pedagang pasar tradisional tetap terjamin.

“Maksud saya ini tidak apa-apa sepi, tapi kalau seminggu terakhir ini cukup terasa, ya salah satunya pengaruh dari off sementaranya MBG ini. Ya semoga bisa membaik lah dalam waktu dekat,” imbuhnya. (LUV)