BisnisEkonomiUmum

Surabaya Kretekroncong Festival 2025: Mencari Titik Temu Kebijakan dan Kebudayaan Rakyat

320
×

Surabaya Kretekroncong Festival 2025: Mencari Titik Temu Kebijakan dan Kebudayaan Rakyat

Sebarkan artikel ini

WARTANOW.COM – Tradisi rakyat dan kebijakan publik bertemu dalam satu panggung intelektual dan budaya di Surabaya Kretekroncong Festival 2025, yang sukses digelar pada Jumat, 7 November 2025. Acara yang merupakan kolaborasi antara Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) dan Lentera Nusantara ini, mengangkat dua ikon budaya Indonesia—kretek dan kroncong—sebagai simbol kreativitas dan identitas bangsa.

Festival ini menjadi arena dialog penting untuk membahas tantangan yang dihadapi kretek di tengah ketatnya regulasi Industri Hasil Tembakau (IHT) serta derasnya perubahan global.

Direktur Lentera Nusantara, Irfan Wahyudi, menegaskan pentingnya mencari keseimbangan antara modernisasi kebijakan dan pelestarian budaya rakyat.

“Kita harus menemukan titik tengah antara pengendalian dan keberlanjutan, antara kesehatan publik dan kesejahteraan rakyat, antara kebijakan dan kebudayaan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua GAPERO Surabaya, Sulami Bahar, menyoroti peran vital IHT bagi ekonomi nasional. Ia menyebut sektor ini telah menyumbang lebih dari Rp216 triliun penerimaan cukai pada tahun 2024 dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 5,9 juta tenaga kerja. Bahar juga menekankan perlunya keseriusan pemerintah dalam memberantas rokok ilegal yang merugikan negara.

Dari sisi akademik, Rektor UWKS, Prof. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati, menekankan perlunya strategi hilirisasi industri tembakau yang berkeadilan.

“Tembakau perlu dipandang sebagai komoditas ekspor strategis. Harus ada wadah khusus untuk membahas hilirisasi tembakau agar nilai ekonominya semakin kuat,” katanya.

Isu kebijakan cukai juga menjadi topik hangat. Kepala Kanwil DJBC Jawa Timur I, Untung Basuki, menilai bahwa kebijakan cukai harus mampu menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan keberlanjutan industri padat karya. “Cukai harus menjadi instrumen yang menjaga ekosistem industri, bukan justru mematikan pelaku usaha kecil,” tegasnya.

READ  Indosat Jatim Beri Diskon dan Bonus Kuota di Harpelnas 2025

Dua pakar seni dan sosial turut memperkuat narasi bahwa kretek dan kroncong adalah warisan yang harus dijaga. Pakar Seni Budaya Unesa, Joko Winarko, menjelaskan bahwa keduanya sama-sama tumbuh dari kreativitas rakyat kecil.

“Keduanya lahir dari kemampuan masyarakat mengolah pengaruh asing menjadi karya berjiwa lokal,” jelasnya.

Senada, Dekan FISIP UWKS, Sugeng Pujileksono, menambahkan bahwa kretek dan kroncong sama-sama berakar dari ruang sosial rakyat. “Kroncong adalah musik jiwa rakyat, sementara kretek adalah aromanya,” katanya. (CJV)