PemerintahanUmum

Pemprov Jatim Sabet Terbaik I Pengolahan Sampah Nasional, Khofifah Tekankan Pentingnya Solusi Jangka Panjang

305
×

Pemprov Jatim Sabet Terbaik I Pengolahan Sampah Nasional, Khofifah Tekankan Pentingnya Solusi Jangka Panjang

Sebarkan artikel ini
Gubernur Khofifah terima piagam penghargaan dari Mendagri (Foto: Humas Jatim)

WARTANOW.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Timur meraih penghargaan Terbaik I Kategori Pengolahan Sampah dan Lingkungan Asri dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri.

Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas komitmen dan upaya Pemprov Jatim bersama masyarakat dalam menjaga kebersihan serta memperkuat pengelolaan sampah di wilayah Jawa Timur.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam berbagai upaya pengelolaan lingkungan, termasuk masyarakat dan satuan pendidikan.

“Alhamdulillah, kerja keras, komitmen dan kepedulian seluruh pihak dan masyarakat membuahkan apresiasi oleh Pemerintah Pusat. Terima kasih kepada seluruh masyarakat hingga para unit SMA, SMK dan SLB yang mendukung pelaksanaan kurve secara rutin,” ujar Khofifah, Minggu (30/8/2026).

Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian kepada Khofifah dalam acara di Bali, Jumat malam. Atas capaian tersebut, Pemprov Jatim juga memperoleh bantuan pemerintah senilai Rp2 miliar.

Khofifah mengatakan salah satu upaya yang turut mendukung capaian tersebut adalah kegiatan kurve atau aksi bersih-bersih yang dilakukan secara rutin. Kegiatan tersebut menyasar sejumlah lokasi, termasuk kawasan pantai dan sungai.

Menurutnya, kegiatan bersih-bersih tidak sekadar menjadi aktivitas menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya gotong royong lintas sektor dalam menangani persoalan sampah.

“Aksi kurve atau bersih-bersih, baik di pantai maupun sungai, merupakan wujud nyata pentingnya budaya gotong royong lintas sektor dalam mengatasi persoalan sampah di Indonesia. Ini kita harapkan menjadi awal yang baik untuk membangun budaya kepedulian lingkungan,” jelas Khofifah.

Selain mendorong perubahan perilaku masyarakat, Pemprov Jatim juga menyiapkan solusi pengelolaan sampah yang bersifat jangka panjang melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

READ  11 Mal Pelayanan Publik Diresmikan, Kediri Punya Layanan Terpadu untuk Warga

Kerja sama pengembangan proyek PSEL telah dilakukan bersama tujuh bupati dan wali kota di kawasan Surabaya Raya dan Malang Raya. Program tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengurangi timbulan sampah sekaligus menghasilkan energi.

Khofifah menegaskan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan jangka pendek. Dibutuhkan strategi berkelanjutan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Persoalan sampah saat ini merupakan salah satu urgensitas yang tidak bisa diselesaikan dengan solusi jangka pendek. Harus yang sifatnya jangka panjang, dan kami di Jawa Timur telah berkomitmen untuk bersama-sama menemukan solusi yang tepat,” kata Khofifah.

Komitmen tersebut tercermin dalam capaian pengelolaan sampah Jawa Timur. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup RI per Maret 2026, tingkat pengelolaan sampah di Jawa Timur mencapai 52,7 persen.

Angka tersebut tercatat sebagai yang tertinggi secara nasional dan jauh berada di atas rata-rata nasional yang mencapai 24,95 persen.

Prestasi dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 juga tidak hanya diraih Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sejumlah pemerintah daerah di Jatim turut mendapatkan penghargaan pada kategori Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri.

Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kota Blitar, dan Kota Surabaya menjadi daerah di Jawa Timur yang juga tercatat sebagai pemenang dalam kategori tersebut.

Capaian ini menjadi dorongan bagi Jawa Timur untuk terus memperkuat pengelolaan sampah, tidak hanya melalui kegiatan bersih-bersih dan peningkatan kesadaran masyarakat, tetapi juga dengan membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan. (MHY)