PemerintahanUmum

Pembangunan Pabrik Metanol di Jatim dan Kaltim Dipercepat, Dukung Ketahanan Energi Nasional

283
×

Pembangunan Pabrik Metanol di Jatim dan Kaltim Dipercepat, Dukung Ketahanan Energi Nasional

Sebarkan artikel ini
Foto Istimewa

WARTANOW.COM – Program mandatori biodiesel B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 177 triliun dan menekan emisi karbon sebesar 44 juta ton CO₂ ekuivalen. Guna mendukung target besar tersebut, pemerintah mempercepat pembangunan dua pabrik metanol di Jawa Timur dan Kalimantan Timur untuk memenuhi kebutuhan pasokan dalam negeri sebesar 2,5 juta ton per tahun.

Sebagai informasi, metanol merupakan bahan campuran penting untuk mengolah Crude Palm Oil (CPO) menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME). FAME inilah yang menjadi bahan campuran solar untuk menghasilkan produk akhir berupa biodiesel.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa kebutuhan metanol untuk menyokong penerapan B50 sangat besar. Oleh karena itu, percepatan pembangunan industri metanol di dalam negeri menjadi langkah krusial yang harus segera dieksekusi.

“Metanolnya kita butuh hanya untuk B50 sekitar 2,5 juta ton per tahun. Maka langkah berikut adalah kita mendorong untuk segera membangun industri metanol,” ujar Bahlil kepada wartawan di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Salah satu proyek pabrik metanol akan dibangun di Bojonegoro, Jawa Timur, dengan memanfaatkan gas bumi sebagai bahan baku utama. Bahlil menyebutkan bahwa proses peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek di Bojonegoro tersebut dijadwalkan berlangsung pada bulan ini.

Sementara itu, pabrik metanol kedua akan dibangun di Kalimantan Timur. Berbeda dengan proyek di Jawa Timur, fasilitas di Kalimantan Timur ini akan menggunakan batu bara sebagai bahan baku, sekaligus menjadi bagian dari program hilirisasi mineral dan batu bara yang tengah digalakkan pemerintah.

“Ada dua yang kita bangun, satu adalah di Bojonegoro itu adalah bahan bakunya gas. Sementara yang kedua adalah batu bara yang ada di Kalimantan Timur,” jelas Bahlil.

READ  FSRU Lampung Terima Kargo LNG ke-20, Pastikan Pasokan Energi Bersih Nasional

Perkuat Kedaulatan Energi di Tengah Ketidakpastian Global
Di kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa implementasi B50 akan menjadi tonggak penting bagi kedaulatan energi Indonesia. Dengan kesiapan B50, Indonesia secara mandiri mampu menghentikan impor solar sepenuhnya.

“Kemarin Bapak Presiden meluncurkan yang namanya B50. Hal itu menunjukkan bahwa Indonesia bisa punya kekuatan sendiri karena dengan B50 solar itu kita tidak impor lagi. Kita menghemat devisa Rp 177 triliun dan berkontribusi terhadap net zero emission 44 juta ton CO₂ setara,” terang Airlangga.

Menurut Airlangga, penguatan fondasi ekonomi nasional, kedaulatan pangan, serta kedaulatan energi sangat vital di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dinamika konflik geopolitik yang belum usai—seperti di Ukraina dan kawasan Selat Hormuz—serta disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), menuntut Indonesia untuk memperkuat rantai pasok (supply chain) domestik.

Ekspansi EBT dan Ekosistem Semikonduktor
Selain program biodiesel B50, pemerintah juga tengah menyiapkan landasan transisi energi melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas masif 100 gigawatt. Proyek ini akan disokong oleh industri hilir baterai kendaraan listrik dan Battery Energy Storage System (BESS) melalui investasi strategis di Kendal (Jawa Tengah) dan Jawa Timur.

Di sektor teknologi tinggi, pemerintah turut mempercepat pembentukan ekosistem industri semikonduktor nasional. Guna mencetak talenta lokal yang berdaya saing, Indonesia resmi menggandeng Arm, raksasa penyedia desain chip global. Kemitraan ini ditargetkan mampu melatih 15.000 teknisi dan insinyur dalam ekosistem Arm demi memperkuat ketahanan industri digital tanah air (SPI)