Umum

Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Prancis Laporkan 1.000 Lebih Kematian

223
×

Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Prancis Laporkan 1.000 Lebih Kematian

Sebarkan artikel ini
(Foto Istimewa)

WARTANOW.COM – Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan Eropa sejak akhir Juni 2026 terus menimbulkan dampak serius. Di Prancis, sekitar 1.000 kematian lebih (excess deaths) dilaporkan diduga berkaitan dengan suhu panas yang mencapai level ekstrem.

Mengutip laporan Al Jazeera, badan kesehatan masyarakat di bawah Kementerian Kesehatan Prancis menyatakan jumlah tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi terus bertambah. Pasalnya, laporan kematian dari rumah tangga maupun fasilitas perawatan lansia masih terus dikumpulkan.

Sebagian besar korban diketahui merupakan warga lanjut usia berusia di atas 65 tahun. Namun demikian, dampak cuaca ekstrem juga dirasakan oleh seluruh kelompok usia.

Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, mengatakan dampak gelombang panas diperkirakan masih akan berlangsung hingga sekitar 10 hari ke depan meski suhu di sebagian wilayah mulai menurun.

Gelombang panas yang melanda Eropa sejak 20 Juni telah mengganggu berbagai aktivitas masyarakat. Sejumlah sekolah dan museum di beberapa negara bahkan terpaksa menghentikan operasional lebih awal demi mengurangi risiko paparan suhu tinggi.

Berdasarkan perkiraan AFP, sedikitnya 191 juta penduduk Eropa diperkirakan menghadapi suhu udara mencapai 35 derajat Celsius atau lebih. Wilayah yang diprediksi mengalami kondisi terpanas meliputi Jerman, Republik Ceko, Hungaria, Polandia, Slovakia, Serbia, Kroasia, Italia, Austria hingga Ukraina bagian barat.

Di Prancis sendiri, meski sebagian besar wilayah mulai mengalami penurunan suhu, badan meteorologi setempat masih mempertahankan status peringatan gelombang panas di sejumlah kawasan timur laut negara tersebut.

Sementara itu, cuaca ekstrem kini bergeser ke kawasan Eropa Timur. Di Jerman, suhu tinggi tidak hanya memicu gangguan kesehatan, tetapi juga meningkatkan angka kecelakaan di perairan.

Berdasarkan laporan kantor berita DPA, sedikitnya tujuh orang meninggal dunia akibat tenggelam selama akhir pekan. Banyak warga memilih memadati danau maupun sungai untuk mencari kesejukan di tengah cuaca yang sangat panas.

READ  Pacu Jalur Resmi Dibuka Menteri Pariwisata, Kapolda Riau Ikut Hadir

Otoritas Jerman mencatat sedikitnya dua korban meninggal dunia dalam insiden terpisah di Berlin. Sementara dalam kasus lainnya, seorang pria ditemukan tidak sadarkan diri di Danau Jungfernheideteich setelah sebelumnya ditemukan oleh sekelompok warga.

Dalam beberapa hari terakhir, Jerman mengalami suhu yang mencapai bahkan melampaui 40 derajat Celsius. Layanan meteorologi setempat juga mencatat suhu malam di wilayah Kubschuetz tidak pernah turun di bawah 29,4 derajat Celsius, mencerminkan tingginya intensitas gelombang panas yang berlangsung tanpa jeda.

Pada Sabtu (27/6/2026), Jerman, Denmark, dan Republik Ceko juga mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah pengamatan di masing-masing negara.

Para ilmuwan menilai gelombang panas kali ini diperparah oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Meski demikian, secara meteorologis fenomena tersebut juga dipengaruhi pola cuaca Omega block, yakni kondisi atmosfer yang memerangkap massa udara panas di suatu wilayah dalam waktu yang lama sehingga suhu terus meningkat dan sulit turun.

Kondisi tersebut membuat otoritas kesehatan di berbagai negara Eropa terus mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta menjaga kecukupan cairan guna mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem. (DKS)