Umum

KAI Angkut 1,33 Juta Ton BBM pada Semester I 2026, Biodiesel B50 Resmi Diterapkan

355
×

KAI Angkut 1,33 Juta Ton BBM pada Semester I 2026, Biodiesel B50 Resmi Diterapkan

Sebarkan artikel ini
Salah satu lokomotif KAI menggunakan B50. (Foto: KAI)

WARTANOW.COM – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatatkan kinerja positif dalam mendukung ketahanan energi nasional. Sepanjang semester pertama tahun 2026, KAI berhasil mendistribusikan sebanyak 1.338.180 ton bahan bakar minyak (BBM). Angka volume angkutan logistik ini mengalami peningkatan sebesar 4,66 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Tidak hanya fokus pada distribusi, KAI juga berkomitmen terhadap kelestarian lingkungan dengan mulai menerapkan penggunaan bahan bakar alternatif biodiesel B50 secara bertahap pada armada kereta dieselnya sejak 1 Juli 2026.

Transisi Energi yang Aman dan Terukur
Kebijakan penerapan B50—yang merupakan campuran 50 persen minyak nabati dan 50 persen solar fosil—dilakukan menyasar armada lokomotif serta kereta pembangkit. Langkah strategis ini merujuk pada kebijakan pemerintah serta telah melalui berbagai pengujian teknis yang ketat.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa transisi energi ini dipersiapkan dengan matang demi menjaga aspek keselamatan perjalanan kereta api.

“Sejak 1 Juli 2026, KAI mulai menerapkan B50 secara bertahap pada sarana diesel sesuai kebijakan pemerintah. Setiap tahap kami persiapkan melalui pengujian teknis dan evaluasi operasional agar transisi energi tetap berjalan selaras dengan keselamatan perjalanan serta keandalan sarana,” ujar Anne dalam keterangan resminya, Selasa (14/7/2026).

Laporan kelayakan operasional bahan bakar baru ini mencakup berbagai pengujian komprehensif, mulai dari:

Performa mesin dan stabilitas pembakaran.

Kadar emisi gas buang.

Ketahanan filter, pelumas, hingga tingkat konsumsi energi.

Pengujian pada kereta pembangkit difokuskan untuk memastikan pasokan listrik selama perjalanan tetap stabil. Sementara pengujian lokomotif bertujuan mengukur respons mesin terhadap variasi beban dan durasi pengoperasian di lapangan.

Target Penurunan Emisi Karbon
Langkah KAI ini sejalan dengan target Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kementerian ESDM memproyeksikan penerapan biodiesel B50 secara nasional mampu menurunkan emisi karbon dioksida secara signifikan hingga 44,46 juta ton, meningkat dibanding saat menerapkan B40 yang berada di angka 39,66 juta ton.

READ  Jababeka Kembangkan Infrastruktur Energi, Mini LNG PIER Siap Layani Industri Jawa Timur

Pengalaman KAI dalam mengoperasikan armada dengan biodiesel B35 hingga B40 sebelumnya menjadi modal penting. Kendati demikian, Anne menekankan bahwa setiap peningkatan kadar biodiesel tetap membutuhkan penyesuaian prosedur pemeriksaan berkala serta peningkatan kompetensi para pekerja lapangan.

Peran Ganda KAI dalam Rantai Pasok Energi
Selain melakukan pembenahan internal pada bahan bakar armadanya, KAI memegang peran krusial dalam rantai pasok energi nasional dari sisi logistik. Salah satu layanan logistik utamanya adalah pengiriman bahan bakar pesawat (avtur) dari Stasiun Cilacap menuju Stasiun Rewulu di Yogyakarta, yang menyuplai kebutuhan operasional di Yogyakarta International Airport (YIA).

“KAI menjalankan peran dari dua sisi. Pada operasional sarana diesel, kami menerapkan B50 sebagai bagian dari transisi energi. Pada layanan logistik, KAI menjaga kelancaran distribusi BBM, termasuk avtur yang mendukung aktivitas penerbangan di Bandara YIA,” tambah Anne.

Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudya, turut menegaskan sinergi kuat ini sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan.

“KAI akan terus meningkatkan kesiapan sarana, kualitas pemeliharaan, kompetensi pekerja, dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan. Langkah tersebut penting agar dukungan KAI terhadap kebijakan energi nasional berjalan dengan tetap mengutamakan keselamatan, keandalan operasi, dan kualitas layanan,” tegas Wisnu. (JWX)