WARTANOW.COM – Bank Indonesia memastikan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga selama periode libur Lebaran 2026, meski di tengah dinamika geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa meskipun pasar keuangan domestik tutup sementara selama Idulfitri, perdagangan Rupiah di pasar internasional tetap berlangsung dan bergerak dinamis.
“Sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak pasar global yang meningkat akibat konflik Timur Tengah, Bank Indonesia memastikan akan menjaga stabilitas rupiah sepanjang libur Lebaran 2026,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/3/2026).
Menurut Destry, fluktuasi nilai tukar di pasar global tetap berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi nasional. Oleh karena itu, BI telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia dari dampak konflik tersebut.
Ia menegaskan, BI akan terus mengoptimalkan instrumen kebijakan moneter yang dimiliki guna memperkuat ketahanan eksternal, termasuk membuka peluang penyesuaian kebijakan apabila situasi global semakin memburuk.
“BI akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dari kemungkinan eskalasi perang Timur Tengah,” jelasnya.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo juga menegaskan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tekanan global.
Menurut Perry, memburuknya kondisi global akibat konflik Timur Tengah berpotensi mendorong pelemahan nilai tukar dan memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Guna tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi baik di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri,” ungkapnya.
Selain itu, BI juga mengoptimalkan seluruh instrumen moneter untuk menarik aliran masuk modal asing serta memperkuat kinerja neraca pembayaran.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini stabilitas nilai tukar Rupiah akan tetap terjaga, didukung oleh komitmen kebijakan yang kuat, imbal hasil investasi yang kompetitif, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih positif. (AWR)












