Umum

Hidrogen Jadi Energi Masa Depan, ESDM Kawal 93 Proyek Bernilai Rp32 Triliun

285
×

Hidrogen Jadi Energi Masa Depan, ESDM Kawal 93 Proyek Bernilai Rp32 Triliun

Sebarkan artikel ini
(foto/dok/KESDM)

WARTANOW.COM – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mengakselerasi pembangunan ekosistem hidrogen nasional. Saat ini, tercatat sedikitnya 93 proyek pengembangan hidrogen tengah berjalan dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan total nilai investasi mencapai Rp32 triliun.

Langkah masif ini menjadi bagian integral dari strategi transisi energi nasional sekaligus bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya domestik.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa seluruh inisiatif ini akan terus dikawal agar dapat terealisasi hingga tahap komersial.

“Kami saat ini punya 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia. Proyek-proyek ini melahirkan Rp32 triliun investasi yang akan kita kawal,” ujar Eniya, dikutip Rabu (22/7/2026).

Solusi Dedieselisasi dan Energi Bersih Terpencil
Pengembangan hidrogen ini selaras dengan arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk mendukung program dedieselisasi, yaitu menekan ketergantungan pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di wilayah-wilayah terpencil.

Beberapa proyek strategis yang kini tengah dipersiapkan antara lain:

1. Sumba (Nusa Tenggara Timur): Ditargetkan beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada tahun 2028.

2. Pulau Rengit: Dikembangkan melalui kolaborasi dengan PT PLN (Persero).

Dalam proyek-proyek tersebut, pemerintah menguji integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan hidrogen yang difungsikan sebagai media penyimpanan energi (energy storage). Skema ini diyakini mampu menyediakan pasokan listrik yang andal sekaligus memangkas konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di daerah terisolir.

Tak hanya di sektor kelistrikan, pemanfaatan hidrogen juga mulai merambah industri energi skala besar. PT Pertamina telah menginisiasi produksi hidrogen hijau (green hydrogen) berbasis energi panas bumi (geotermal) di Ulubelu, Lampung.

READ  Akhiri Tugas Posko Nataru, ESDM Pastikan Pasokan Energi Nasional Terjaga

Dongkrak Indeks Ketahanan Energi Nasional
Kementerian ESDM menilai, optimalisasi hidrogen berpotensi besar meningkatkan indeks ketahanan energi Indonesia. Saat ini, indeks ketahanan energi nasional berada pada angka 7 dari skala 10, dan diproyeksikan naik menjadi level 8 jika pemanfaatan hidrogen dapat terimplementasi secara luas.

“Melalui hidrogen, kami ingin menggali sumber energi dari kekuatan kita sendiri, tidak bergantung kepada pihak lain,” tegas Eniya.

Sektor Transportasi Jadi Pelopor: Peluncuran Bus Hidrogen
Sebagai langkah nyata dalam mendukung transportasi rendah karbon, pemerintah secara resmi meluncurkan Pilot Bus Hydrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF). Armada bus Perum DAMRI ini telah dimodifikasi agar mampu beroperasi menggunakan kombinasi bahan bakar solar dan hidrogen.

Program percontohan ini menjadi batu loncatan menuju komersialisasi kendaraan berbahan bakar hidrogen di Indonesia. Selain menekan efisiensi penggunaan solar, teknologi ini efektif mereduksi emisi gas buang.

Ke depan, penerapan teknologi hidrogen ditargetkan tidak hanya untuk transportasi publik massal, tetapi juga merambah mobil penumpang, kendaraan operasional industri (forklift), drone, hingga alat rumah tangga seperti kompor hidrogen.

Perlu Kolaborasi Lintas Sektor
Meski potensi dan investasinya sangat besar, Eniya menegaskan bahwa pembentukan industri hidrogen tidak bisa digarap oleh pemerintah sendirian. Sinergi yang kuat antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, lembaga riset, perguruan tinggi, hingga mitra internasional sangat krusial untuk menjamin keberlanjutan investasi ini.

Dengan investasi jumbo sebesar Rp32 triliun, hidrogen diharapkan tak sekadar menjadi pelengkap agenda transisi energi, melainkan tumbuh menjadi sektor industri baru yang tangguh, memperkuat ketahanan energi, dan terus menarik daya pikat investasi hijau (green investment) dalam jangka panjang. (SQB)